Kalimat inilah yang menutup salah satu opini di Kompas (22 September 2008) begitu pasar modal Amerika Serikat mulai sempoyongan dan gonjang-ganjingnya mulai menghantui pasar modal di Indonesia. Koran-koran Indonesia menutupi apa yang sebenarnya terjadi, berusaha pula menenangkan "pelaku pasar" agar dampak krisis yang terjadi di Amerika bisa diredam.
- Tanggal 22 Februari 2007, HSBC memecat kepala divisi kredit hipoteknya sambil mengakui bahwa divisi tersebut merugi sebesar USD 10,8 milyar.
- Tanggal 9 Maret, DR Horton, perusahaan konstruksi rumah terbesar di Amerika Serikat, memperingatkan akan kemungkinan rugi akibat hipotek subprime.
- Pada tanggal 12 Maret, New Century Financial, salah satu kreditor subprime terbesar di AS, mengalami pembekuan saham akibat ketakutan bahwa perusahaan tengah menuju kebangkrutan.
- Tanggal 16 Maret, Accredited Home Lenders Holding menjual akad kredit subprime mereka senilai USD 2,7 milyar, dengan diskon besar, untuk mendapat uang demi membiayai operasi mereka.
- Tanggal 2 April, New Century Financials akhirnya mendaftarkan diri untuk dilindungi dari kebangkrutan setelah dipaksa membeli kembali kredit macet senilai milyaran dolar.
- Tanggal 6 Agustus, American Home Mortgage, salah satu perusahaan penyedia kredit perumahan independen terbesar di AS, mendaftarkan kebangkrutannya di pengadilan setelah mem-PHK sebagian besar karyawannya.
- Tanggal 9 Agustus, salah satu bank terbesar di Perancis, BNP Paribas, membekukan dana investasi sebesar 2 milyar euro dengan alasan kredit macet di sektor perumahan AS, Bank Sentral Eropa terpaksa menginjeksi 95 milyar euro ke pasar keuangan Eropa untuk mencegah dampak buruk kemacetan kredit ini.
- Esoknya, tanggal 10 Agustus, Bank Sentral Eropa melepas tambahan 61 milyar euro ke pasar keuangan karena injeksi sebelumnya tidak memadai.
- Tiga hari kemudian mereka melepas lagi 47,7 milyar euro, bank sentral AS dan Jepang juga menginjeksi pasar keuangan dengan jumlah yang sepadan.
- Tanggal 16 Agustus, Countrywide Financial, salah satu bank hipotek terbesar di AS mencari dana untuk mengisi kekurangan uang tunai mereka sebesar USD 11,5 milyar.
Tanggal 13 September, Northern Rock, salah satu bank hipotek terbesar di Inggris mengalami kesulitan uang tunai.
(Mengenai hipotek subprime dan cara kerja pasar modal, dapat dibaca pada tulisan yang sebelumnya telah di-posting di website ini tentang "Pengijon Berdasi".)
Yang tidak dikemukakan juga oleh media massa dan para analis borjuis di Indonesia adalah bahwa krisis yang kini melanda pasar keuangan AS ini merupakan kelanjutan dari krisis keuangan yang diakibatkan oleh jatuhnya nilai saham perusahaan-perusahaan teknologi informasi (krisis yang sering disebut dotcom bubble burst) di akhir tahun 2000. Logikanya begini:
- Untuk mengatasi krisis keuangan yang timbul akibat jatuhnya nilai saham dotcom, bank sentral AS ("The Fed") memangkas suku bunga kredit dari 6,5% menjadi 3,5%. Pasca 11 September, The Fed memangkas lagi suku bunga kredit menjadi hanya sebesar 1%. Selama 31 bulan berturut-turut, suku bunga kredit jangka pendek mencapai nilai minus. (Bayangkan ada kredit dengan suku bunga minus!)
- Harga uang yang murah (bahkan dapat disebut "gratis" karena suku bunganya minus) ini dilempar ke pasar kredit perumahan, karena sektor inilah yang relatif masih sehat waktu itu dan masih bisa berkembang dengan pesat. Tapi, kelebihan pasokan uang ini menyebabkan para bankir harus bisa menggubah syarat-syarat kredit yang mudah sehingga akan mendongkrak jumlah akad kredit yang ditandatangani. Lahirlah model hipotek subprime, pinjaman yang diberikan pada orang-orang yang rekam jejak pengembalian hutangnya jelek atau tanpa syarat sama sekali. Pada titik ekstrimnya, kredit juga diberikan pada peminjam berkategori "ninja"--yang tidak punya pekerjaan tetap, tidak punya penghasilan tetap, tidak punya asset.
- Kemudahan kredit rumah dan kredit dengan jaminan rumah ini membuat kredit rumah menjadi bahan spekulasi. Begitu sudah menjadi bahan spekulasi, tinggal menunggu waktu saja spekulasi ini berlangsung tak terkendali. Apalagi, dalam pasar keuangan, ada mekanisme "derivatif" di mana resiko kredit bisa diasuransikan, lalu direasuransi, dan seterusnya. Melalui surat hutang terkolateralisasi (Collateralized Debt Obligation--CDO), bank kreditor dapat "menjual" resikonya pada bank lain. Dengan pat-gulipat, CDO ini dapat dikolateralisasi lagi sampai CDO tingkat ketiga. CDO ini masih bisa diasuransikan lagi dengan mekanisme yang disebut jaminan kredit jatuh tempo (Credit Default Swap--CDS). Dengan CDS, surat hutang dijaminkan ke bank lain tanpa sepengetahuan si penghutang. Nilai transaksi CDS di tahun 2008 ini mencapai USD 42,6 triliun, setara dengan nilai kekayaan seluruh rumah tangga di seantero Amerika Serikat. Permainan lempar-lemparan resiko inilah yang membuat pasar menjadi rentan--dan, yang jelas, tidak ada satu pelaku pasar pun yang sanggup menanggung resiko ketika pasar terguncang.
Begitulah... memang, "tak mungkin sistem kapitalisme tanpa krisis". Tapi, kita musti melihat bahwa kapitalisme mengatasi satu krisis dengan menumbuhkan krisis lainnya. Dan, pada akhirnya, beban krisis itu harus ditanggung lagi oleh rakyat pekerja. Rencana bail-out (penalangan) oleh pemerintah dan bank sentral AS, senilai USD 700 milyar, menunjukkan bahwa, pada akhirnya, pasar keuangan toh terbukti tidak sanggup menstabilkan dirinya sendiri, dan harus mengemis pada pemerintah untuk diselamatkan. Dan pemerintah AS menggunakan uang pajak, uang rakyat, untuk penalangan itu, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam hal krisis BLBI. Para pembela kapitalisme selalu mengatakan: menyelamatkan pasar keuangan penting karena, jika tidak diselamatkan, perekonomian akan hancur. Yang selalu mereka lupakan juga adalah jika pasar keuangan sedang kuat mereka akan mengatakan: pemerintah jangan campur-tangan ke dalam pasar, pajak harus dipotong, peraturan harus diliberalisasi....
Begitulah... memang, "tak mungkin sistem kapitalisme tanpa krisis". Dan, karena itu pulalah kapitalisme harus dihabisi. Karena ketika tidak sedang krisis, pasar meminta pada pemerintah agar bebas memangsa rakyat pekerja. Ketika krisis kapitalisme meminta bantuan agar pemerintah menggunakan uang rakyat untuk membantu mereka. Kapitalisme adalah penghisap darah rakyat pekerja, titik. Dalam keadaan krisis maupun tidak, mereka hidup dari darah rakyat pekerja.
Begitulah... memang, "tak mungkin sistem kapitalisme tanpa krisis". Jadi, apa yang akan anda lakukan untuk menghentikan krisis yang hanya akan merugikan rakyat pekerja ini?
Makassar, 4 Oktober 2008
Penulis adalah Ketua Divisi Pendidikan Komite Pusat PRP








